Corona dan Masyarakat

Posted Leave a commentPosted in Uncategorized

Terhitung sejak awal tahun 2020 hingga kini, masyarakat dunia nampak diresahkan oleh kemunculan wabah virus baru yang disebut sebagai Virus Corona. Tidak hanya menimbulkan dampak bagi kesehatan, penularan virus ini ternyata juga membawa sejumlah dampak sosial. Adapun virus yang vaksinnya masih dalam proses pengembangan ini juga membuat sejumlah negara dan masyarakat di dalamnya perlu mengambil langkah cepat terkait pencegahan dari virus corona yang penularannya lebih banyak dan lebih cepat dibandingkan saat wabah SARS pada tahun 2003 yang lalu.

Virus Corona sendiri pertama kali teridentifikasi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China pada akhir tahun 2019. Virus yang memiliki nama lain berupa 2019-nCOV ini merupakan jenis virus zoonis yang dapat menular melalui hewan dan manusia. Meski tergolong ke dalam kelompok virus yang menyebabkan flu, namun Virus Corona tergolong ke dalam virus yang baru dan masih belum ditemukan vaksinnya. Virus yang masih diselidiki lebih lanjut penyebab kemunculannya ini memiliki tingkat penyebaran kasus yang tinggi. Hal ini ditandai oleh data terbaru yang diluncurkan oleh Map of Coronavirus 2019-nCOV Global Cases oleh Johns Hopkins CSSE, yang menyatakan bahwa hingga 6 februari 2020 terdapat 28.344 orang di seluruh dunia teridentifikasi positif Virus Corona dengan jumlah kasus kematian yang mencapai angka 565 jiwa (Idham, 2020).

Di lansir dari laman World Health Organization, Virus Corona memiliki gejala yang serupa dengan penderita yang mengalami gejala flu seperti demam tinggi, sesak napas, nyeri dada, hingga batuk kering. Gejala tersebut pun muncul setelah dua hingga empat belas hari setelah terkena paparan virus. Adapun penyebarannya dapat melalui kontak fisik, udara, maupun kontak mata dengan objek yang telah terpapar Corona. Meski penyebaran yang luas dan jumlah kasus yang banyak, pengidap Virus Corona sendiri masih memiliki peluang sembuh yang cukup signifikan melalui perawatan yang intensif. Hal ini terbukti dari adanya laporan sebanyak 1.337 orang yang sembuh setelah dirawat secara intensif di rumah sakit.

Selain menimbulkan keresahan terkait kesehatan, terdapat guncangan sosial-politik dan ekonomi di dalam masyarakat dunia. Hal ini tercermin dari lonjakan harga masker N95 di masyarakat. Di sejumlah negara, khususnya China, jumlah masker di pasaran menjadi menipis dan banyak orang rela membeli masker meski dengan harga yang sangat mahal. Hal tersebut pun berimbas kepada negara-negara lain. Dalam hal ini pemerintah Jepang turut mencanangkan produksi masker besar-besaran untuk masyarakatnya, melihat kasus Corona yang juga telah memasuki negaranya. Tidak hanya masker yang turut melonjak naik, sejumlah maskapai pesawat di berbagai negara dikabarkan tidak dapat beroperasi pada rute ke daerah Wuhan atau beberapa daerah di China lainnya. Hal ini menyebabkan harga tiket pesawat menjadi sangat mahal ke daerah-daerah tersebut.
Pemerintah China sendiri turut mengambil langkah pengisolasian sejumlah

wilayah untuk meminimalisir penyebaran virus tersebut dan kerap menyediakan fasilitas perawatan bagi para pasien Corona. Hal ini membuat masyarakat khususnya pada daerah Wuhan sendiri saling meneriakan kata semangat kepada satu sama lain dari tempat tinggalnya masing-masing. Di sisi lain, dokter dan perawat menjadi basis terdepan dalam menangani pasien Corona walau memiliki risiko tertular yang tinggi dan kelelahan yang luar biasa.

Adapun pemerintah Indonesia juga mengupayakan sejumlah usaha terkait pencegahan dan penanganan Virus Corona itu sendiri. Dalam hal ini, pemerintah Indonesia turut membantu kepulangan WNI yang berada di Wuhan dan menyediakan sejumlah fasilitas karantina di Natuna. Sejumlah kasus yang terindikasi Virus Corona juga langsung mendapat penanganan medis sebagai bentuk pencegahan walaupun belum sepenuhnya teridentifikasi positif Corona.

Adapun Virus Corona yang ada perlu lah tetap disikapi dengan bijak. Menerapkan gaya hidup yang bersih, berolahraga untuk meningkatkan sistem imun, dan menjaga konsumsi makanan yang bersih dapat menjadi langkah awal mencegah penularan Virus Corona. Selain itu masyarakat pun dapat meminimalisir keresahan yang terjadi dengan tidak menyebarkan pemberitaan yang belum tervalidasi dengan baik. Sehingga dalam hal ini bukan saja dampak dari kesehatan yang segera pulih, namun dampak sosial juga dapat teratasi dengan baik.

Sumber:

Idham, A. M. (2020, Februari 6). Gejala Virus Corona dan Daftar Info Penting yang Perlu Diketahui. Retrieved from Tirto.id: https://tirto.id/gejala-virus-corona-dan-daftar-info-penting-yang-perlu-diketahui-exja
WHO. (2020). Coronavirus. Retrieved from World Health Organization: https://www.who.int/health-topics/coronavirus

Kearifan Lokal, Keberagaman, dan Pendidikan Kontekstual

Posted Leave a commentPosted in Uncategorized

Pendidikan Kontekstual: Definisi dan Perannya

Beberapa tahun ke belakang, frasa pendidikan kontekstual kerap digaungkan oleh para aktivis pendidikan. Namun, masih sedikit dari kita yang betul-betul memahami makna dari frasa tersebut. Lantas, apa sebenarnya makna dari pendidikan kontekstual?

Dalam jurnal berjudul Contextual Teaching and Learning for Practitioners, Hudson dan Whisler (2007) mendefinisikan pembelajaran dan pengajaran kontekstual sebagai cara untuk memperkenalkan materi menggunakan berbagai teknik pembelajaran aktif yang dirancang untuk membantu pelajar menghubungkan apa yang telah mereka ketahui dengan yang mereka ingin pelajari, dan mengkonstruksikan pengetahuan baru melalui analisis dan sintesis dalam proses pembelajaran tersebut. Pembelajaran dan pengajaran kontekstual juga didefinisikan sebagai konsep pengajaran dan pembelajaran yang membantu guru menghubungkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata; dan memotivasi pelajar untuk menghubungkan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, dan pekerja; dan ikut serta dalam kerja keras yang dibutuhkan dalam pembelajaran (Berns dan Erickson, 2001; Khaefiatunnisa, 2015) . Pendidikan kontekstual memiliki peran yang cukup besar dalam mengembangkan kemampuan kognitif dan kepekaan sosial pelajar. Jika dikaitkan dengan teori koneksi, pengajaran dan pembelajaran kontekstual dapat membantu pelajar menghubungkan materi yang mereka pelajari dengan konteks kehidupan dimana materi tersebut dapat digunakan (Berns dan Erickson, 2001; Hudson dan Whisler, 2007).

Pendidikan Kontekstual dan Pendidikan Multikultural

Dalam konteks Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman suku dan budaya yang kaya, pendidikan kontekstual sering dihubungkan dengan pendidikan multikultural. Apa sebenarnya keterkaitan antara keduanya?

Pendidikan multikultural sendiri dapat diartikan sebagai pendekatan progresif untuk mentransformasi pendidikan yang secara holistik mengkritik dan merespon praktik dan kebijakan diskriminatif dalam pendidikan. Didasarkan pada keadilan sosial, keadilan pendidikan, pedagogi kritis, dan dedikasi dalam menyediakan pengalaman pendidikan dimana semua siswa dalam mencapai potensi maksimal sebagai pelajar dan entitas yang memiliki kesadaran sosial secara lokal, nasional, dan global (Gorski, 2010; Amirin, 2012).  Pendidikan multikultural menurut Amirini (2012) dapat diposisikan sebagai, (1) Falsafah pendidikan;  pandangan bahwa kekayaan keberagaman budaya Indonesia hendaknya dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengembangkan dan meningkatkan sistem pendidikan dan kegiatan belajar-mengajar di Indonesia guna mencapai masyarakat Indonesia yang adil dan makmur (berbarkat) dan bahagia dunia akhirat, (2) Pendekatan pendidikan;  penyelenggaraan dan pelaksanaan pendidikan yang kontekstual, yang memperhatikan keragaman budaya Indonesia, dan (3) Bidang kajian dan bidang studi; disiplin ilmu yang—dibantu oleh sosiologi dan antropologi pendidikan—menelaah dan mengkaji aspek-aspek kebudayaan, terutama nilai-nilai budaya dan perwujudannya (norma, etiket atau tatakrama, adat-istiadat atau tradisi dan lain-lain—mencakup “manifestasi budaya” agama) untuk/dalam penyelenggaraan dan pelaksanaan pendidikan.

Dari paparan tersebut dapat dilihat bahwa pendidikan kontekstual—jika ditarik ke konteks masyarakat Indonesia, merupakan pendekatan pendidikan yang menekankan pada kepekaan dan pemanfaatan keberagaman serta kearifan lokal untuk mencapai kehidupan yang berkeadilan.

Implementasi Pendekatan Pendidikan Kontekstual di Indonesia

Jika ditilik kembali, pemerintah tampaknya belum melakukan usaha untuk mengimplementasikan pendekatan pendidikan kontekstual dalam kurikulum pendidikan dasarnya. Melihat tidak adanya usaha yang konkret dari pemerintah, segelintir masyarakat Indonesia tergerak untuk menciptakan gerakan pendidikan berbasis pendekatan pendidikan kontekstual seperti yang dilakukan oleh Butet Manurung.

Butet Manurung merupakan pendiri dari Sokola Institute, sebuah lembaga non-profit yang bergerak di bidang pendidikan bagi masyarakat adat. Sokola Institute memiliki tujuan untuk mengintegrasikan pendidikan ke dalam komunitas tertentu, sesuai dengan kebudayaan lokal yang mereka miliki. Sokola Institute juga memiliki misi untuk menyiapkan masyarakat marjinal dalam menghadapi tantangan dunia yang modern. Untuk mencapai tujuan tersebut, Sokola Institute mengembangkan kurikulum pembelajaran membaca, menulis, dan berhitung yang sesuai dengan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat adat. Hingga saat ini, Sokola Institute sudah melakukan kegiatan belajar mengajar bagi masyarakat adat di Asmat, Halmahera, Flores, Kajang, Makassar, dan Jambi.

Tidak hanya Butet Manurung dengan Sokola Institute yang menjadi motor penggerak pendekatan pendidikan kontekstual di Indonesia. Beberapa mahasiswa Universitas Gajah Mada juga mendirikan sebuah komunitas yang berfokus pada pendirian perpustakaan di pelosok-pelosok Indonesia bernama Book For Mountain. Komunitas ini bermula dari program kuliah kerja nyata yang mereka ikuti di Lombok Timur yang membuat mereka harus mendirikan sebuah perpustakaan, mereka melihat bahwa masih banyak sekolah dasar di pelosok Indonesia yang tidak memiliki perpustakaan, kalaupun ada, koleksi buku yang dimiliki masih sangat terbatas dan dengan kondisi yang sudah hampir rusak. Saat ini Book For Mountain memiliki 5 program, yaitu (1) Project Pembangunan Perpustakaan, (2) Sekolah Berjalan, (3) Bedah Perpustakaan, (4) Voluntourism, dan (5) Hari Kumpul Buku. Book For Mountain saat ini juga sudah menjalankan 19 proyek, mendirikan 40 perpustakaan, dan menerbitkan 1 seri buku bergambar  dengan judul Kemiri Yori yang menceritakan tentang pendidikan kontekstual.

Berbagai paparan dan kegiatan terkait pendekatan pendidikan kontekstual diatas telah menggambarkan kepedulian dan keaktifan warga negara Indonesia untuk menciptakan kesempatan yang setara bagi seluruh masyarakat dalam mencapai pendidikan. Pendidikan yang setara bukan tentang keseragaman kurikulum dan bahan ajar, namun tentang memberikan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pelajarnya.

 

Refrensi:

Amirin, T. M. (2012). Implementasi Pendekatan Pendidikan Multikultural dan Kontekstual Berbasis Kearifan Lokal di Indonesia. Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi Dan Aplikasi1, 1–7. Diakses melalui https://journal.uny.ac.id/index.php/jppfa/article/view/1047/848
Hudson, C. C., & Whisler, V. R. (2007). Contextual Teaching and Learning for Practitioners . Systemics, Cybernetics and Informatics6, 54–58. Diakses melalui http://www.iiisci.org/journal/CV$/sci/pdfs/E668PS.pdf
Khaefiatunnisa. (2015). The Effectiveness of Contextual Teaching and Learning in Improving Students’ Reading Skill in Procedural Text. Journal of English and Education3, 80–95. Diakses melalui https://media.neliti.com/media/publications/192088-EN-the-effectiveness-of-contextual-teaching.pdf

 

Review Film: Batas. Pejuang Pendidikan di Daearah Perbatasan

Posted Leave a commentPosted in Uncategorized

Melihat tema film-film Indonesia pada beberapa tahun belakang, film Indonesia didominasi oleh film yang bertemakan percintaan atau horor. Dua tema tersebut sangat sering muncul menghiasi dunia perfilman di tanah air. Namun, selain dua genre tersebut, sebenarnya Indonesia mempunyai film-film popular di luar dua genre tersbut, meskipun tidak sesering film romantic ataupun horor seperti action, thriller hingga yang terbaru, para pembuat film Indonesia sudah mulai mengembangkan film yang bertema superhero. Akan tetapi tahu kah kamu Indonesia pernah dihiasi oleh sebuah film yang sangat inspiratif dan menunjukan sedikit gambaran mengenai kondisi Negara kita di daerah perbatasan? Ya film tersebut adalah Batas.

Batas merupakan film dari karya sutradara Rudi Soedjarwo yang diproduksi pada tahun 2011 silam. Film ini diperankan oleh aktor dan aktris yang sudah malang melintang di dunia perfilman Indonesia, seperti Marcella Zalianty dan Arifin Putra. Batas mengambil latar tempat cerita di daerah perkampungan Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia, yaiu di wilayah Entikong, Kabupaten Sangau, Kalimantan Barat. Cerita dalam Film Batas, dimulai ketika sebuah perusahaan berusaha menyelidiki penyebab mengapa sistem pendidikan di daerah Entikong selalu gagal. Untuk mengetahui akar permasalahannya, perusahaan mengirim seorang peneliti bernama Jaleswari (Marcella Zalianty). Awalnya, Jaleswari merasa dirinya tidak akan bertahan lama di kampung tersebut, karena Jaleswari memiliki kehidupan dengan latar belakang yang lebih modern jika dibanding dengan kondisi di perkampungan tersebut. Namun, siapa sangka, seiring berjalannya waktu Jaleswari justru merasa nyaman tinggal di daerah tersbut. Hal ini muncul karena salah satu anak yang tinggal di derah tersebut yang bernama Borneo, mengira bahwa Jaleswari adalah seorang guru yang diutus untuk menjadi pengajar di kampung nya. Merasa mendapatkan kasih saying dari anak-anak di Entikong, Jaleswari pun memutuskan untuk menjadi pengajar di kampung tersebut, walaupun itu bukan lah tugas awal yang harus dilaksanakannya. Konflik pada film ini mucul saat kelompok masyarakat yang merasa terusik oleh kehadiran Jaleswari. Sebagian masyarakat menilai bahwa apa yang dilakukan oleh Jaleswari hanya akan merusak tatanan adat istiadat masyarakat. Masyarakat yang menolak kehadiran Jaleswari dipimpin oleh Panglima Adayak Otig pakis. Konflik antara Jaleswari dan Otig lah yang mewarnai dari jalan cerita pada film ini ditambah plot-plot cerita lainnya yang akan membawa penonton untuk terus merasakan kehadiran nilai-nilai kemanusiaan dan perjuangan tanpa henti.

Film ini diklaim oleh banyak orang memiliki nilai-nilai filosofi di dalamnya. Bagaimana tidak, latar tempat cerita yang diambil adalah wilayah perbatasan negara Indonesia. Hal ini memberi banyak gambaran kepada masyarakat luas tentang kehidupan di daerah terluar Indonesia serta kebudayaan yang berkembang di daerah Kalimantan khusus nya adat istiadat suku Dayak. Kemudian karakter Jaleswari yang berjuang untuk menyelamatkan generasi muda bangsa di daerah terluar melalui pendidikan. Selain itu, film ini juga memiliki semangat nilai Pancasila melalui sila kelima, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia lewat pemberian pendidikan yang merata ke seluruh wilayah di Indonesia.

Gerakan Pemuda Era Milenial di Indonesia

Posted Leave a commentPosted in Uncategorized

Berbicara tentang gerakan pemuda di Indonesia tentu tidak akan ada habisnya. Dari masa ke masa, gerakan pemuda selalu hadir mewarnai perjalanan Indonesia dalam mencapai cita-cita bangsanya dan tidak jarang menjadi motor dalam perjuangan mencapai cita-cita tersebut. Namun seiring dengan waktu, gerakan pemuda di Indonesia selalu mengalami perubahan baik dari segi pola pergerakan, fokus isu yang diangkat, maupun media yang digunakan dalam menggaungkan semangat pergerakan.

Gerakan pemuda di setiap zaman memiliki ciri khas masing-masing. Di zaman sebelum kemerdekaan, gerakan pemuda berfokus pada persatuan bangsa dengan menggunakan cara-cara yang formal seperti menyelenggarakan kongres dan pertemuan lainnya, pemuda di zaman ini juga mengandalkan tulisan sebagai media pergerakannya. Kemudian setelah kemerdekaan, gerakan pemuda mulai melakukan pengawalan terhadap kebijakan pemerintah dan membentuk komunitas dan organisasi pergerakan seperti Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Pemuda juga mulai berani melakukan demonstrasi untuk menggaungkan semangat pergerakannya dan menyuarakan tuntutan mereka. Gerakan pemuda di Indonesia sempat melemah di era orde baru karena mendapat kekangan dan pemerintah, namun pada tahun 1998, pemuda Indonesia kembali melakukan pergerakan dengan berdemonstrasi dan mengajukan tuntutan untuk meruntuhkan orde baru.

Sama dengan gerakan pemuda di era-era sebelumnya yang memiliki ciri khas, gerakan pemuda Indonesia di era milenial juga memiliki ciri khas tersendiri. Saat ini, pemuda Indonesia cenderung melakukan pergerakan dengan pola dan cara yang menyenangkan. Pemuda Indonesia saat ini sudah mulai meninggalkan cara-cara formal dan serius dalam melakukan pergerakan. Mereka lebih suka menggunakan cara-cara yang menyenangkan, minim kekerasan, tapi mampu menarik perhatian banyak orang. Mereka muncul melalui ruang-ruang diskusi santai di kedai kopi, pameran karya seni, pertunjukan musik, penayangan dan diskusi film, stand-up comedy, hingga membuat meme ‘nyeleneh’ di media sosial.

Pemuda Indonesia di era milenial juga tidak memfokuskan ruang pergerakan mereka pada satu isu. Fokus isu yang diangkat  berbeda-beda, dipilih sesuai dengan ketertarikan masing-masing individu. Pemuda-pemuda yang tertarik pada isu lingkungan kemudian menciptakan gerakan konservasi lingkungan, seperti organisasi KOPHI (Koalisi Pemuda Hijau Indonesia) yang sering megadakan lokakarya daur ulang sampah dan menyebarluaskan informasi terkait kerusakan lingkungan melalui instagram dan website. Selain lingkungan, ada juga pemuda-pemuda yang memiliki ketertarikan pada isu pendidikan kritis, mereka kemudian mengadakan sebuah proyek lokakarya dan pameran fotografi kolektif untuk menyuarakan aspirasi mereka. Tidak hanya lingkungan dan pendidikan kritis, pemuda Indonesia juga masih tertarik pada isu-isu politik, beberapa diantara mereka kemudian mendirikan sebuah komunitas bernama Generasi Melek Politik yang pada bulan April 2019 merilis video bertajuk Milenial Menggugat bersama dengan Asumsi. Video yang dirilis dalam momentum Pemilu 2019 tersebut, berisi gugatan milenial terhadap calon presiden dan wakil presiden terpilih terkait isu lingkungan, ekonomi digital, toleransi, perempuan, kebebasan berekspresi, dan literasi media.

Gerakan-gerakan pemuda yang disebutkan di atas hanya segelintir dari banyaknya gerakan kepemudaan lain yang tumbuh subur di negeri ini.  Hal tersebut menunjukan bahwa pemuda Indonesia masih dan akan terus bergerak untuk mencapai cita-cita bangsanya serta selalu hadir sebagai motor penggerak inovasi dan perubahan. Mereka hadir di berbagai ruang untuk menggaungkan semangat pergerakan dan perubahan untuk mencapai negara Indonesia yang dicita-citakan. Untuk menutup tulisan ini, mari kita rangkum ciri khas pergerakan pemuda Indonesia era Milenial dalam 3 kata; menyenangkan, kreatif, membumi. 

Resep Mental Pemuda Sukes

Posted Leave a commentPosted in Uncategorized

 

“Without continual growth and progress, such words as

improvement, achievement, and success have no meaning”

      – Benjamin Franklin


Dewasa kini, pemuda semakin dihadapkan oleh beragam tantangan hidup. Menurut Penelitian oleh Lhasa OMS, pemuda yang termasuk ke dalam generasi Millenial dan Z cenderung lebih menderita dan merasa tertekan oleh adanya tantangan pada zamannya. Tantangan hidup tersebut tidak hanya muncul dari sumber internal seperti bagaimana caranya agar dapat bertahan hidup sehari-hari, tetapi juga berasal dari sumber eksternal seperti tantangan dalam  berkompetisi di era yang semakin maju dan kompleks; Revolusi Industri 4.0. Selain itu terdapat lima poin tantangan hidup yang sangat signifikan memengaruhi kehidupan pemuda pada masa kini, yakni finansial, teknologi, politik, dan sosial.

Kian kompleksnya tantangan hidup yang ada membuat para pemuda merasa seperti terjerat beban dan menimbulkan stress tersendiri. Tidak jarang dan tidak asing pula gejala mental berupa stress ringan hingga quarter life crisis kita dapati telah menyerang sebagian pemuda masa kini. hal ini lah yang menyebabkan alih-alih seseorang dapat memaksimalkan potensi dirinya dengan baik, ia justru terjebak dalam tantangan internal dan eksternalnya sendiri. Lalu sebenarnya langkah seperti apa yang harus diambil para pemuda untuk menjawab tantangan hidup tersebut?

Sederhananya, pemupukan mental pemuda sukses adanya perlu ditanamkan pada diri masing-masing pemuda sejak dini. Namun, pemupukan mental untuk sukses ini tidak serta-merta dapat dijalankan dalam waktu yang singkat. Diperlukan niat dan konsistensi yang besar dari dalam diri seseorang. Selain itu, mental pemuda sukses dapat terwujud apabila seseorang sudah memahami betul dan mengaplikasikan manajemen diri, waktu, dan finansial yang baik dalam kehidupannya.

Langkah pertama yang perlu dilakukan ialah terkait manajemen diri. Manajamen diri merupakan upaya seseorang dalam mengenali dan mengelola dirinya baik dari emosi, pemikiran, maupun perbuatan. Kunci manajemen diri yang baik terletak pada kemampuan kita untuk memengaruhi dan mengorganisasikan pikiran serta perbuatan kita ke dalam bentuk yang positif dan produktif.

Carol S. Dweck (2016) dalam bukunya yang berjudul Mindset – The New Psychology of success, menyatakan bahwa orang-orang dengan mental untuk dapat sukses memiliki growth mindset yang ditanamkan pada dirinya. Growth mindset sendiri merupakan pemikiran atau kepercayaan yang  dapat dibentuk dengan tujuan memotivasi untuk mengembangkan diri sendiri sehingga dapat mencapai berbagai macam tujuan hidup. Orang-orang yang menggunakan growth mindset ini memiliki karakteristik untuk terus melakukan perubahan positif dalam hidupnya. Hal ini ditandai oleh adanya kesadaran bahwa mereka dapat mengembangkan talenta dan tidak berpaku pada nasib semata. Karakteristik lainnya adalah keberanian menghadapi peluang, mampu mempelajari berbagai saran dan kritikan, mengakui bahwa usaha yang maksimal tentu akan membuahkan hasil yang sepadan, dan mengubah pemikiran mengenai “kegagalan” menjadi “pembelajaran” sehingga tidak mudah menyerah.

Berkebalikan dengan growth mindset, fixed mindset membuat orang-orang yang menganutnya cenderung kurang berkembang dan tidak fleksibel menanggapi tantangan perubahan zaman. Orang-orang dengan fixed mindset memiliki karakteristik yang cenderung menghindari peluang, mudah menyerah, menganggap usaha tidak memberikan dampak yang signifikan pada sebuah hasil, menggunakan caranya sendiri dan mengabaikan saran serta kritik yang membangun. Selain itu, karakteristik dari orang-orang dengan fixed mindset yang sangat disayangkan adalah adanya pemikiran bahwa bakat seseorang cenderung tetap atas masing-masing bidang yang diambil. Mengambil contoh apabila seseorang yang berbakat dalam bela diri namun memiliki ketertarikan akan menari, maka mereka akan mengurungkan ketertarikannya tersebut dengan dalih bahwa menari bukan merupakan bidang yang tepat untuk dirinya, badannya tidak cukup lentur, dan lain sebagainya. Hal ini lah yang pada akhirnya membuat orang-orang dengan fixed mindset akan minim pengalaman, soft skill, dan kehilangan kesempatan atau waktu untuk mencoba berbagai hal.

Tentunya sebagai pemuda dengan mental yang sukses, ada baiknya untuk menanamkan growth mindset dalam pemikiran kita. Hal ini sejalan dengan tuntutan era yang kian kompleks ini berupa pentingnya memiliki banyak pengalaman, soft skill, dan lain sebagainya. Tentunya hal ini tidak dapat tercapai apabila pemuda-pemuda masih memiliki fixed mindset yang kaku dalam dirinya.

Selain itu, Langkah kedua yang perlu dilakukan adalah dengan mengorganisasikan tujuan. Dengan adanya tujuan yang terarah dan mendetil, seseorang akan lebih mudah fokus untuk mencapai tujuannya. Hal utama yang dapat dilakukan adalah memikirkan tujuan jangka panjang. Banyak orang yang ketika memikirkan tujuan jangka panjang hanya memiliki gambaran tujuan secara garis besarnya saja dan mengesampingkan spesifikasi tujuan tersebut. Hal ini lah yang membuat tujuan tersebut akan lebih sulit tercapai karena dalam proses meraihnya tidak ada arahan yang jelas dan dapat lebih mudah terdistraksi. Oleh karenanya, penting bagi para pemuda untuk dapat memikirkan bagaimana tujuan tersebut akan dicapai dan spesifikasii mendetil dari tujuan besar tersebut.

Mengambil contoh sebuah tujuan besar yang didambakan pemuda masa kini setelah lulus kuliah adalah agar mendapatkan pekerjaan dan cepat mapan. Untuk mewujudkannya, kita perlu menuliskan spesifikasi atau tujuan-tujuan detil lainnya seperti harus bisa mendapat IPK 3.51 pada semester berikutnya, harus bisa mengikuti organisasi dan membuka koneksi pada semester genap, harus bisa mendapatkan kesempatan magang di perusahaan A pada tahun B, dan lain-lain.

Lalu bagaimana bila sewaktu-waktu tujuan tersebut terdistraksi oleh hal-hal lain yang dirasa kurang penting? Jawabannya adalah dengan menggunakan trik sepuluh menit. Trik ini mengarahkan kita untuk tetap fokus dengan cara menunda keinginan tersebut ke sepuluh menit ke depan. Seperti apabila kita sedang mengerjakan proyek namun terdistraksi oleh iklan dan ajakan untuk membeli tiket konser musik yang kurang memiliki dampak signifikan terhadap hidup, ada baiknya keinginan tersebut ditunda ke sepuluh menit ke depan dan berikut-berikutnya hingga paada akhirnya keinginan tersebut akan hilang. Namun, pelu digaris bawahi bahwa trik sepuluh menit ini hanya dapat digunakan untuk menunda keinginan yang dianggap kurang penting, bukan untuk menutup keinginan mencoba peluang-peluang baru yang dapat membangun.

Langkah terakhir yang dapat dilakukan merupakan kombinasi manajemen diri, waktu, dan finansial. Langkah ini menggunakan prinsip yang dianut oleh masyarakat Jepang, yakni prinsip/ budaya Kaizen. Prinsip dengan nama lain prinsip satu menit ini mengharuskan seseorang untuk mengulang rutinitas kecil di waktu yang sama pada setiap harinya. Dengan menggunakan prinsip kaizen, seseorang dapat belajar untuk memanajemen waktu dengan baik karena rutinitas tersebut perlu dilakukan pada waktu yang sama setiap harinya. Manajemen finansial juga dapat tercermin apabila prinsip ini digunakan untuk menabung dengan jumlah yang sudah ditetapkan pada waktu yang sama setiap harinya.

Pada dasarnya, prinsip Kaizen memercayai bahwa rutinitas kecil yang biasa dilakukan akan memunculkan kebiasaan tersendiri dan dapat menghilangkan rasa malas seseorang. Apabila rutinitas kecil sudah dapat dilakukan secara berkesinambungan maka seseorang dapat beralih ke rutinitas yang lebih besar dan penting. Adapun rutinitas pemuda dengan mental sukses yang dapat dilakukan adalah dengan bagun pagi, mengasah otak dengan membaca buku maupun menyelesaikan puzzle/permainan, mengatakan hal-hal yang positif dalam diri, sarapan dan olahraga, meluangkan waktu untuk berpikir, serta relaksasi diri.

Pada akhirnya dengan menjalankan tiga langkah tersebut dengan konsisten, kita sudah dapat memupuk mental pemuda yang sukses dalam diri masing-masing. Dengan adanya growth mindset, tujuan yang spesifik, dan rutinitas yang berkesinambungan  sekiranya dapat menjawab tantangan internal pemuda masa kini dan dapat mengatasi serta beradaptasi dengan tantangan eksternal yang ada. Dengan demikian, oleh karena setiap detik dan menit dalam hidup kita sangat berharga, maka mulailah dengan mengatakan “I will” dan memulai mencoba langkah-langkahnya dari hari ini demi memupuk pribadi menjadi pemuda bermental sukses!

Cloutivism: Benar atau Salah?

Posted Leave a commentPosted in Uncategorized

Beberapa waktu lalu, salah satu jurnalis VICE Indonesia, Yudhis Tira, memperkenalkan terminologi cloutivism. Terminologi ini merujuk pada fenomena orang-orang yang mengikuti atau melibatkan diri pada gerakan sosial hanya untuk mengejar clout, pujian, dan ketenaran. Clout dalam hal ini diartikan juga sebagai popularitas dan kemampuan mempengaruhi orang lain. Munculnya terminologi ini dipicu oleh banyaknya influencer media sosial yang mengikuti aksi #ReformasiDikorupsi.

Dalam aksi #ReformasiDikorupsi, massa aksi berjumlah lebih dari sepuluh ribu orang. Massa aksi tersebut terdiri dari berbagai macam kalangan, mulai dari mahasiswa, buruh, hingga selebgram. Berbeda dengan massa aksi di tahun 1998, massa aksi #ReformasiDikorupsi memiliki kebebasan penuh untuk mengekspresikan dirinya. Massa aksi yang turun di tahun 1998 adalah orang-orang yang paham betul akan tuntutan yang dibawa dan memiliki semangat juang untuk mencapai kebebasan yang sejak lama direnggut oleh Orde Baru. Sementara dalam aksi #ReformasiDikorupsi, banyak massa aksi  yang tidak memahami tuntutan yang dibawa dan mengikuti aksi hanya agar dapat mengunggah konten di media sosialnya. Tak heran pada saat aksi berlangsung banya massa aksi yang sibuk mengambil gambar dan video untuk diunggah di media sosial, ditambah dengan caption puitis bak sastrawan yang meromantisasi kondisi kekacauan saat itu. Bahkan, pada saat gas air mata dilemparkan masih ada massa aksi yang sempat mengabadikan momen tersebut dan mengunggahnya di media sosial untuk satu tujuan: viral. 

Fenomena cloutivism terjadi karena masyarakat saat ini memiliki kebebasan penuh untuk mengekspresikan diri mereka. Kebanyakan dari mereka memilih media sosial sebagai ruang untuk berekspresi. Ekspresi yang ingin ditampilkan dan citra yang ingin dibangun bergantung pada konten yang diunggah di laman media sosial. Ketika orang-orang sibuk mengunggah konten saat aksi, mereka mungkin ingin mengekspresikan kekhawatirannya, mungkin juga mereka sedang menciptakan citra diri sebagai seorang pahlawan, aktivis, atau paling tidak sebagai seseorang yang peduli akan kondisi negaranya.

Kita tentu tidak bisa langsung memberikan label cloutivism pada orang-orang yang mengunggah konten tentang gerakan sosial di media sosialnya. Kita juga tidak bisa mengatakan bahwa cloutivism merupakan hal yang buruk. Karena tidak dapat dipungkiri, clout merupakan hal yang penting dalam gerakan sosial. Dengan clout, kita dapat memengaruhi orang lain untuk ikut bergerak dan aktif berkontribusi untuk mewujudkan perubahan. Oleh karena itu, terlepas dari niat dan tujuan dari keterlibatan kita dalam gerakan sosial, kita perlu berbangga karena kita telah memberikan setitik kontribusi untuk perubahan.

Pemuda Indonesia dan Segala Cita Tentang Indonesia

Posted Leave a commentPosted in Uncategorized

Ir. Soekarno, proklamator sekaligus presiden pertama Republik Indonesia yang biasa kita panggil dengan sebutan Bung Karno, tempo dulu pernah berkata;

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Perkataan Bung Karno tersebut menggambarkan besarnya keyakinan beliau akan kekuatan pemuda sebagai motor penggerak dalam pergerakan sebuah bangsa untuk mencapai kondisi ideal yang dicita-citakan. Bukan tanpa alasan Bung Karno berkata demikian, kita bisa melihat banyak bukti bahwa pemuda nyatanya memang sangat berpengaruh dalam terciptanya perubahan.

Mari lontar balik ke tahun 1928, tahun dimana pemuda Indonesia untuk pertama kalinya berkumpul dalam sebuah kongres pemuda untuk menegaskan cita-cita bahwa Hindia Belanda kelak akan menjadi Indonesia. Menjadi sebuah bangsa, menjadi tanah air bagi bangsanya, dan memiliki bahasa persatuan yang dapat dipahami oleh seluruh masyarakat sebangsanya. Maju sedikit ke tahun 1945, golongan muda terbukti mampu mendesak Bung Karno dan Bung Hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Setelah mendapatkan kemerdekaan untuk dirinya, tanah airnya, dan bangsanya, pemuda Indonesia tidak hanya duduk manis menikmati kemerdekaan. Mereka terus hadir dan mengawal pemerintah dalam menciptakan kebijakan dan menjalankan pemerintahan agar dapat mencapai kondisi ideal negara Indonesia yang dicita-citakan. Ketika pemerintah terbukti tidak berhasil, pemuda Indonesia pun turun langsung untuk membantu membenahi. Mereka turun lewat aksi, diskusi, dan pergerakan. Hal itu lah yang membuat bangsa Indonesia terlepas dari rezim orde baru dan memasuki era reformasi di tahun 1998.

Melihat sepak terjang pemuda Indonesia dalam mempelopori perubahan ke arah tercapainya kondisi ideal yang dicita-citakan bangsa Indonesia, tergambarkan sudah bagaimana pengaruh dan kekuatan pemuda Indonesia. Kekuatan ini lah yang diharapkan akan terus-menerus mampu menciptakan inovasi dan perubahan. Walaupun generasi muda silih berganti, semangat dan kekuatan dalam menciptakan perubahan dan berinovasi tidak boleh hilang dari diri pemuda Indonesia.

Pemuda Indonesia di setiap generasi pasti memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan semangat dan kekuatannya untuk menciptakan perubahan dan berinovasi. Pemuda Indonesia generasi terdahulu mungkin lebih suka mengekspresikannya dengan aksi dan turun langsung dalam kancah perpolitikan, sedangkan pemuda Indonesia generasi saat ini mencukupkan ekspresi tersebut dengan menciptakan ide-ide kreatif, menulis, membuat karya seni, atau turun langsung ke tempat-tempat yang tidak terjamah oleh pemerintah. Pemuda Indonesia saat ini membuat pergerakan menjadi hal yang menyenangkan namun harus tetap substantif.

Salah satu ekspresi semangat dan kekuatan pemuda Indonesia saat ini dalam menciptakan perubahan dan berinovasi dapat kita lihat melalui sebuah gerakan alternatif bernama We The Youth. We The Youth hadir untuk membangun kesadaran dan partisipasi aktif anak muda seputar permasalahan sosial. Di We The Youth pemuda dapat menyuarakan pendapatnya, bertukar pikiran, dan berdialog lewat berbagai platform baik daring maupun luring. We The Youth secara masif mempublikasikan konten-konten kreatif dalam bentuk visual untuk menyadarkan anak muda tentang permasalahan sosial yang ada. We The Youth juga kerap mengadakan kegiatan diskusi dan talkshow yang dibarengi dengan penampilan musik dari para pemusik muda di Indonesia.

Selain We The Youth, ada pula organisasi nirlaba bernama Pamflet dibentuk untuk mendukung pergerakan anak muda di Indonesia di bidang sosial budaya. Pamflet juga membentuk pusat informasi dan dokumentasi untuk berbagai isu anak muda di Indonesia serta mengorganisir pembangunan kapasitas untuk anak muda berdasarkan prinsip hak asasi manusia. Sejak tahun 2012, Pamflet terus bekerjasama dengan aktivis, organisasi, dan inisiatif muda dari seluruh Indonesia yang bergerak di berbagai isu seperti lingkungan, hak asasi manusia, anti korupsi, seni dan budaya, dan seksualitas.

Munculnya gerakan-gerakan kepemudaan dalam bentuk kreatif yang dimotori oleh pemuda Indonesia, kita tentu perlu berbesar hati dan meyakini bahwa Indonesia, cepat atau lambat, akan sampai pada cita-citanya untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan mencapai kesejahteraan. Jika gerakan-gerakan pemuda Indonesia ini terus didukung dan dikembangkan, Indonesia Emas 2045 bukan lagi sebuah gagasan utopis melainkan sebuah cita-cita yang dapat dicapai oleh bangsa yang besar ini.