blog

Talkshow: Sesi #GuruMillenial Bulan Agustus

Pada bulan Agustus lalu, tim 10Pemuda mendapat kesempatan untuk berbincang dengan dua orang guru millenial dari dua sekolah ternama di Jakarta. Mereka adalah Mas Satriwan Salim, M.Si. (Mas Sat) yang juga merupakan Wakil Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia dan Bung Erwin Supriatna, S.Pd. (Bung Erwin).

Mas Sat yang sehari-hari mengajar mata pelajaran PPKN berbagi cerita tentang peran pemuda dalam keberagaman dan toleransi bangsa Indonesia. Sementara, Bung Erwin yang sehari-hari mengajar mata pelajaran sejarah bercerita tentang peran pemuda dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia. Kedua materi yang disampaikan oleh para guru milenial ini ternyata memiliki keterkaitan yang erat.

Pada awal sesi talkshow, Mas Sat menjelaskan tentang sejarah gerakan pemuda yang dimulai sejak era Politik Etis dimana pada saat itu akses pendidikan bagi masyarakat kolonial mulai dibuka sehingga anak-anak yang lahir setelah era Politik Etis memiliki kesempatan untuk belajar. Hal tersebut mendorong mereka untuk mengambil peran yang besar dalam perjuangan kemerdekaan melalui serangkaian gerakan yang mereka bentuk.

Sama dengan Mas Sat, Bung Erwin juga membuka sesi talkshow dengan menceritakan peran pemuda dalam lintasan sejarah. Di mulai sejak tahun 1928 pada Kongres Pemuda I, kemudian tahun 1945 pada saat proklamasi kemerdekaan, berlanjut di tahun 1966 saat pemuda Indonesia bersama-sama melawan penyimpangan yang dilakukan Presiden Sukarno di era Demokrasi Terpimpin, hingga pada tahun 1998 pemuda Indonesia berhasil meruntuhkan rezim orde baru.

Mas Sat, dalam sesi talkshow bersama 10Pemuda, menceritakan tentang H.O.S Tjokroaminoto yang merupakan guru dari para pendiri bangsa kita. Dalam mendidik founding fathers Indonesia, H.O.S Tjokroaminoto selalu membebaskan anak didiknya untuk bereksplorasi dengan membaca berbagai buku dan saling berdialog sehingga anak-anak didik beliau dapat melahirkan pandangan kebangsaan yang berbeda-beda.

Namun, perbedaan yang dimiliki para pendiri bangsa merupakan hal yang lumrah. Pada Kongres Pemuda tahun 1928, pemuda Indonesia yang berasa dari berbagai daerah, suku, bangsa, dan agama serta ideologi yang berbeda berkumpul untuk memperjuangkan kemerdekaan dengan semangat nasionalisme. “Pemuda sudah terbiasa dengan perbedaan suku dan agama, bahkan di kongres pemuda itu yang dibawa semangat kebangsaan, nereka menghapus sekat-sekat kebangsaan biarpun mereka mewakili suku masing-masing dalam kongres pemuda.” kata Mas Sat.

Pemuda memang memiliki peran yang besar dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Gerakan pemuda sangat revolusioner sehingga dapat menghasilkan perubahan yang cepat dan besar. Hal tersebut yang membuat pemuda kerap disebut sebagai Agen Perubahan. Menurut Bung Erwin, pemuda merupakan pusat dari kemajuan bangsa, pewaris kekuasaan, dan juga kontrol sosial yang senantiasa mengawal kebijakan pemerintah.

Untuk terus meningkatkan kemampuan pemuda dalam menjadi agen perubahan, guru memiliki peran yang penting. Guru harus menciptakan ruang bagi pemuda untuk berpikir kritis dan kebebasan untuk mengemukakan pandangan dan pikiran di dalam ruang-ruang kelas. Dengan begitu, pemuda akan terus bereksplorasi mengembangkan ide dan pikiran untuk kemajuan bangsa. Pemuda juga akan lebih bijak dalam menghadapi perbedaan karena sejatinya Indonesia adalah sebuah bangsa yang lahir dari perbedaan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *