Uncategorized

How to Survive New Normal Emotionally

Waktu: 5 menit (membaca dengan kecepatan normal)
Penulis: Mudhya Razanne Tiara

New Normal telah menjadi era baru sejak mewabahnya pandemi COVID-19. New Normal sendiri merupakan istilah yang digunakan oleh pemerintah untuk merujuk pada sebuah tatanan baru kehidupan untuk dalam beradaptasi dengan COVID-19. Dengan adanya tatanan baru ini, pemerintah mengharapkan agar masyarakat dapat tetap produktif selama pandemi berlangsung dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan sesuai standar. Tatanan ini tentunya membutuhkan respon yang sesuai dari masyarakat baik secara fisik maupun emosional. Secara fisik, masyarakat dapat tetap bekerja dengan sistem jadwal tertentu, dapat melakukan transaksi jual beli dengan pembatasan fisik yang tepat, tetap menggunakan masker ketika melakukan kegiatan, dan tetap rajin mencuci tangan. Adapun, bagaimana sebenarnya cara beradaptasi dalam tatanan New Normal secara emosional?

Nah, teman-teman 10 Pemuda, pada hari Selasa tanggal 14 Juli 2020, 10Pemuda mengadakan talkshow melalui akun instagram @10pemuda. Tema yang dibawakan pada kegiatan tersebut adalah mengenai kondisi New Normal yang dialami pemuda khususnya bagi pelajar dengan judul talkshow “How to Survive New Normal Emotionally #Akucermat.

Tema ini dilandasi mengenai tatanan baru yang tentu berimbas pada perubahan rutinitas masyarakat yang menyebabkan kondisi emosi dan psikologis juga akan berubah. Nah, bila emosi dan psikologis ini tidak terkendali dengan baik, umumnya seseorang bisa mengalami penurunan kesehatan mental yang dapat memengaruhi produktivitas selama masa New Normal.

Dalam talkshow ini, Mbak Pratiwi Widyasari M.Psi selaku narasumber menjelaskan pertama kali mengenai perubahan rutinitas yang kerap terjadi di masa New Normal. Rutinitas yang berubah menyebabkan seseorang kehilangan kendali atas waktu dan perlu menyesuaikan diri dengan tata waktu yang baru. Hal ini sendiri sebenarnya bisa terlihat dari sebagian orang yang mengalami stress karena waktu kerja yang menjadi tidak jelas atau berlebihan dan sebagian orang yang merasa terlalu jenuh karena waktu bersantai yang lebih senggang. Selain itu, perubahan rutinitas ini juga kerap diiringi oleh tantangan lainnya seperti banyaknya ketidakpastian, pengurangan intensitas interaksi dengan orang lain, pengurangan dukungan dari lingkungan, dan lain-lain.

Tantangan-tantangan tersebut yang dikhawatikan Mbak Wiwid dapat menimbulkan sejumlah kondisi terkait kesehatan mental yang memengaruhi produktivitas. Adapun ia menjelaskan bahwa sejatinya terdapat indikator seseorang sehat secara mental dalam menjalani aktivitas sehari-hari, yang berdasarkan World Health Organization (WHO) tahun 2001 sebagai keadaan di mana seseorang sadar akan potensi diri sendiri, mampu mengatasi masalah hidup, mampu bekerja secara produktif, dan mampu berkontribusi kepada lingkungannya. Bersinggungan dengan kondisi mental, Mbak Wiwid memberikan salah satu contoh yang dekat dengan kehidupan pemuda seperti adanya kondisi stres akademik. Stres akademik sendiri merupakan keadaan seseorang mempunyai masalah ataupun reaksi fisik dan pikiran yang negatif yang muncul akibat adanya tuntutan akibat keadaan akademisnya. Hal ini dapat berupa seperti adanya tuntutan akan tugas yang menumpuk, tuntutan terkait nilai, komparisasi keadaan pembelajaran dulu dan sekarang, hingga kesulitan untuk mendapatkan materi pembelajaran yang baik.

Oleh karenanya, untuk menjaga kesehatan mental dan emosional ini sangat penting untuk seseorang mampu membuat dan menyesuaikan rutinitas pada jadwal yang baru. Mbak Wiwid juga menyarankan untuk memupuk rasa empati kepada sesama pelajar/pemuda yang mengalami kondisi yang kurang produktif dan efektif terkait pembelajaran. Rasa empati ini dapat dilakukan dengan mencoba memahami kondisi satu sama lain, saling menanyakan kabar, dan saling memberi dukungan. Hal ini lah yang dapat mengubah pandangan dan kondisi mental seseorang atau masyarakat ke arah yang lebih positif, yakni dengan memberikan kenyataan bahwa kita tidak sendiri dalam menghadapi masalah yang ada dan dapat saling bangkit kembali untuk menguatkan satu sama lain.

Oleh karenanya, jangan lupa untuk membuat penjadwalan yang baru agar bisa menciptakan rutinitas dan suasana yang produktif, ya YouthTizen! Selain itu tidak ada salahnya untuk saling memberikan dukungan emosional satu dengan yang lainnya bukan?

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *