Uncategorized

Pemuda dan Obesitas

Waktu Membaca: 3 Menit
Penulis: Nadja Tazkiya

Pada 7 Juli 2020 lalu, 10Pemuda mengadakan talkshow tentang Pemuda dan Obesitas. Dalam talkshow tersebut, kami berkesempatan untuk ngobrol bareng Tim Peneliti Obesitas dari Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI dan dua teman 10Pemuda yang berhasil mengalahkan obesitas alias menurunkan berat badan.

Tim Peneliti Obesitas Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI telah melakukan penelitian tentang obesitas dan remaja sejak tahun 2018 dan masih berlangsung hingga saat ini. Dari penelitian yang telah dilakukan, Arif Wibowo, S.Sos, S.Hum, M.Hum (Mas Arif) salah satu peneliti dari Tim Peneliti Obesitas menjelaskan kalau anak-anak yang gemuk memilih aktivitas yang nggak banyak melibatkan gerak tubuh, mereka lebih suka yang berbau ilmu pengetahuan atau yang ilmiah seperti Debat atau KIR. Mas Arif, dalam penelitiannya, menemukan bahwa kebanyakan yang gemuk adalah anak yang pintar. Mas Arif menyayangkan fenomena tersebut karena anak yang gemuk cenderung lebih rentan terkena penyakit dan memiliki angka harapan hidup yang lebih rendah. “Bahaya untuk masa depan karena mereka pintar tapi umurnya nggak panjang, jadi nggak maksimal dalam berkontribusi untuk pembangunan.” Kata mas Arif.

Obesitas pada remaja juga sangat dipengaruhi oleh kondisi sekolah di Indonesia. Dr. Johana Debora Imelda, MA (Mba Debby) mengatakan bahwa kurikulum di Indonesia yang sangat padat menyebabkan anak jadi kurang melakukan aktivitas fisik. Ditambah lagi, waktu istirahat yang kurang memaksa anak untuk memakan makanan yang ada di sekolah tanpa mempertimbangkan kandungan gizinya yang cenderung tinggi gula dan tinggi lemak. Kemudian, Sofyan Cholid, S.Sos, M.Si (Mas Sofyan) juga mengatakan kalau anak-anak memiliki uang jajan di kisaran Rp. 10.000 – Rp. 30.000 yang digunakan untuk membeli jajanan yang relatif nggak sehat.

Nah, melihat hasil penelitian yang dipaparkan oleh Tim Peneliti Obesitas, tim 10Pemuda jadi semakin penasaran untuk mendengar secara langsung pengalaman terkena obesitas yang dirasakan oleh Muhammad Rafi Atthariq (Thariq) dan Yasmine Shafa (Yasmine). Menurut Thariq, saat masih memiliki berat badan yang tinggi Thariq sering merasa ngantuk dan ketiduran di kelas, tapi setelah memulai proses diet, Thariq merasa lebih aktif di kelas dan prestasi akademiknya pun meningkat. Thariq juga mengatakan kalau di masa pandemi ini, ia memiliki lebih banyak waktu untuk memperhatikan pola makan dan berolahraga. “Kalau biasanya kan sibuk kuliah, trus kalau lagi nggak sibuk kuliah temen-temen suka ngajak main game. Jadi kurang gerak.” Kata Thariq.

Selain Thariq, ada juga Yasmine yang menceritakan pengalamannya untuk menurunkan berat badan. Yasmine bilang, kalau ia pernah melakukan pola diet yang salah dengan hanya memakan satu buah biskuit setiap harinya karena ingin berat badannya cepat turun. Ia mengaku bahwa proses diet yang ia lakukan dipengaruhi oleh banyaknya orang yang mengomentari tubuhnya. Tapi, lama-lama Yasmine menyadari kalau proses diet yang ia lakukan belum tepat dan membuat mentalnya jadi lemah. “Niat nurunin berat badan itu harus dari diri sendiri, karena kalau dari orang lain mental kita jadi lemah.” Kata Yasmine. Yasmine pun mencoba mencari tahu tentang pola diet yang benar. Yasmine mengatakan bahwa yang terpenting adalah jumlah kalori yang masuk seimbang dengan jumlah kalori yang dikeluarkan. Jadi, saat ini, Yasmine sudah mulai memperbaiki pola makannya dan rutin melakukan olahraga lari untuk membakar kalori.

Di akhir sesi talkshow, Thariq dan Yasmine memberikan tips dalam menghadapi obesitas. Thariq berpesan bahwa remaja yang obesitas harus menumbuhkan motivasi supaya tergerak mau olahraga dan menjaga kesehatan tubuh. Berbeda dengan Thariq, Yasmine malah memberikan pesan untuk orangtua dari anak-anak yang terkena obesitas agar lebih bijak dalam memberitahu anak untuk menurunkan berat badan, “orang tua harus mencontohkan bukan cuma nyuruh-nyuruh” kata Yasmine. Perkataan Yasmine juga sejalan dengan tips dari mas Sofyan agar orang tua lebih sering mengajak anaknya main keluar dan paksa untuk tidak membawa gawai, “tunjukin ke anak-anak kalau ada banyak hal yang bisa dilakukan di luar.” Kata mas Sofyan.

 


			

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *