Uncategorized

Kearifan Lokal, Keberagaman, dan Pendidikan Kontekstual

Pendidikan Kontekstual: Definisi dan Perannya

Beberapa tahun ke belakang, frasa pendidikan kontekstual kerap digaungkan oleh para aktivis pendidikan. Namun, masih sedikit dari kita yang betul-betul memahami makna dari frasa tersebut. Lantas, apa sebenarnya makna dari pendidikan kontekstual?

Dalam jurnal berjudul Contextual Teaching and Learning for Practitioners, Hudson dan Whisler (2007) mendefinisikan pembelajaran dan pengajaran kontekstual sebagai cara untuk memperkenalkan materi menggunakan berbagai teknik pembelajaran aktif yang dirancang untuk membantu pelajar menghubungkan apa yang telah mereka ketahui dengan yang mereka ingin pelajari, dan mengkonstruksikan pengetahuan baru melalui analisis dan sintesis dalam proses pembelajaran tersebut. Pembelajaran dan pengajaran kontekstual juga didefinisikan sebagai konsep pengajaran dan pembelajaran yang membantu guru menghubungkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata; dan memotivasi pelajar untuk menghubungkan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, dan pekerja; dan ikut serta dalam kerja keras yang dibutuhkan dalam pembelajaran (Berns dan Erickson, 2001; Khaefiatunnisa, 2015) . Pendidikan kontekstual memiliki peran yang cukup besar dalam mengembangkan kemampuan kognitif dan kepekaan sosial pelajar. Jika dikaitkan dengan teori koneksi, pengajaran dan pembelajaran kontekstual dapat membantu pelajar menghubungkan materi yang mereka pelajari dengan konteks kehidupan dimana materi tersebut dapat digunakan (Berns dan Erickson, 2001; Hudson dan Whisler, 2007).

Pendidikan Kontekstual dan Pendidikan Multikultural

Dalam konteks Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman suku dan budaya yang kaya, pendidikan kontekstual sering dihubungkan dengan pendidikan multikultural. Apa sebenarnya keterkaitan antara keduanya?

Pendidikan multikultural sendiri dapat diartikan sebagai pendekatan progresif untuk mentransformasi pendidikan yang secara holistik mengkritik dan merespon praktik dan kebijakan diskriminatif dalam pendidikan. Didasarkan pada keadilan sosial, keadilan pendidikan, pedagogi kritis, dan dedikasi dalam menyediakan pengalaman pendidikan dimana semua siswa dalam mencapai potensi maksimal sebagai pelajar dan entitas yang memiliki kesadaran sosial secara lokal, nasional, dan global (Gorski, 2010; Amirin, 2012).  Pendidikan multikultural menurut Amirini (2012) dapat diposisikan sebagai, (1) Falsafah pendidikan;  pandangan bahwa kekayaan keberagaman budaya Indonesia hendaknya dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengembangkan dan meningkatkan sistem pendidikan dan kegiatan belajar-mengajar di Indonesia guna mencapai masyarakat Indonesia yang adil dan makmur (berbarkat) dan bahagia dunia akhirat, (2) Pendekatan pendidikan;  penyelenggaraan dan pelaksanaan pendidikan yang kontekstual, yang memperhatikan keragaman budaya Indonesia, dan (3) Bidang kajian dan bidang studi; disiplin ilmu yang—dibantu oleh sosiologi dan antropologi pendidikan—menelaah dan mengkaji aspek-aspek kebudayaan, terutama nilai-nilai budaya dan perwujudannya (norma, etiket atau tatakrama, adat-istiadat atau tradisi dan lain-lain—mencakup “manifestasi budaya” agama) untuk/dalam penyelenggaraan dan pelaksanaan pendidikan.

Dari paparan tersebut dapat dilihat bahwa pendidikan kontekstual—jika ditarik ke konteks masyarakat Indonesia, merupakan pendekatan pendidikan yang menekankan pada kepekaan dan pemanfaatan keberagaman serta kearifan lokal untuk mencapai kehidupan yang berkeadilan.

Implementasi Pendekatan Pendidikan Kontekstual di Indonesia

Jika ditilik kembali, pemerintah tampaknya belum melakukan usaha untuk mengimplementasikan pendekatan pendidikan kontekstual dalam kurikulum pendidikan dasarnya. Melihat tidak adanya usaha yang konkret dari pemerintah, segelintir masyarakat Indonesia tergerak untuk menciptakan gerakan pendidikan berbasis pendekatan pendidikan kontekstual seperti yang dilakukan oleh Butet Manurung.

Butet Manurung merupakan pendiri dari Sokola Institute, sebuah lembaga non-profit yang bergerak di bidang pendidikan bagi masyarakat adat. Sokola Institute memiliki tujuan untuk mengintegrasikan pendidikan ke dalam komunitas tertentu, sesuai dengan kebudayaan lokal yang mereka miliki. Sokola Institute juga memiliki misi untuk menyiapkan masyarakat marjinal dalam menghadapi tantangan dunia yang modern. Untuk mencapai tujuan tersebut, Sokola Institute mengembangkan kurikulum pembelajaran membaca, menulis, dan berhitung yang sesuai dengan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat adat. Hingga saat ini, Sokola Institute sudah melakukan kegiatan belajar mengajar bagi masyarakat adat di Asmat, Halmahera, Flores, Kajang, Makassar, dan Jambi.

Tidak hanya Butet Manurung dengan Sokola Institute yang menjadi motor penggerak pendekatan pendidikan kontekstual di Indonesia. Beberapa mahasiswa Universitas Gajah Mada juga mendirikan sebuah komunitas yang berfokus pada pendirian perpustakaan di pelosok-pelosok Indonesia bernama Book For Mountain. Komunitas ini bermula dari program kuliah kerja nyata yang mereka ikuti di Lombok Timur yang membuat mereka harus mendirikan sebuah perpustakaan, mereka melihat bahwa masih banyak sekolah dasar di pelosok Indonesia yang tidak memiliki perpustakaan, kalaupun ada, koleksi buku yang dimiliki masih sangat terbatas dan dengan kondisi yang sudah hampir rusak. Saat ini Book For Mountain memiliki 5 program, yaitu (1) Project Pembangunan Perpustakaan, (2) Sekolah Berjalan, (3) Bedah Perpustakaan, (4) Voluntourism, dan (5) Hari Kumpul Buku. Book For Mountain saat ini juga sudah menjalankan 19 proyek, mendirikan 40 perpustakaan, dan menerbitkan 1 seri buku bergambar  dengan judul Kemiri Yori yang menceritakan tentang pendidikan kontekstual.

Berbagai paparan dan kegiatan terkait pendekatan pendidikan kontekstual diatas telah menggambarkan kepedulian dan keaktifan warga negara Indonesia untuk menciptakan kesempatan yang setara bagi seluruh masyarakat dalam mencapai pendidikan. Pendidikan yang setara bukan tentang keseragaman kurikulum dan bahan ajar, namun tentang memberikan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pelajarnya.

 

Refrensi:

Amirin, T. M. (2012). Implementasi Pendekatan Pendidikan Multikultural dan Kontekstual Berbasis Kearifan Lokal di Indonesia. Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi Dan Aplikasi1, 1–7. Diakses melalui https://journal.uny.ac.id/index.php/jppfa/article/view/1047/848
Hudson, C. C., & Whisler, V. R. (2007). Contextual Teaching and Learning for Practitioners . Systemics, Cybernetics and Informatics6, 54–58. Diakses melalui http://www.iiisci.org/journal/CV$/sci/pdfs/E668PS.pdf
Khaefiatunnisa. (2015). The Effectiveness of Contextual Teaching and Learning in Improving Students’ Reading Skill in Procedural Text. Journal of English and Education3, 80–95. Diakses melalui https://media.neliti.com/media/publications/192088-EN-the-effectiveness-of-contextual-teaching.pdf

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *